Bukan Sekadar Menahan Lapar, Berikut 7 Keutamaan Puasa

Oleh: H.M.Saad Arpani RH, S.E, M.M- Sekretaris MUI Palangka Raya

Ramadan kembali menyapa. Namun pertanyaannya, apakah puasa yang kita jalani benar-benar menghadirkan perubahan dalam diri, atau sekadar rutinitas tahunan yang berlalu tanpa bekas?

Dalam Al-Qur’an, tepatnya pada QS. Al-Baqarah ayat 183, ditegaskan bahwa tujuan diwajibkannya puasa adalah agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Artinya, puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pendidikan spiritual. Ia membentuk kesadaran bahwa ada Allah SWT yang selalu mengawasi, bahkan ketika tak seorang pun melihat.

Lebih dari itu, puasa juga berfungsi sebagai pengekang syahwat. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Pesannya jelas: puasa melatih pengendalian diri. Di tengah kehidupan modern yang serba terbuka dan penuh godaan, kemampuan menahan hawa nafsu menjadi benteng moral yang sangat penting.

Puasa bahkan digambarkan sebagai pemberi syafa’at di hari kiamat. Dalam hadis riwayat Ahmad bin Hanbal disebutkan bahwa puasa dan Al-Qur’an akan memberi pembelaan bagi seorang hamba. Ini menunjukkan bahwa ibadah bukanlah aktivitas yang sia-sia. Setiap rasa haus dan lapar yang ditahan dengan ikhlas memiliki nilai abadi di sisi Allah SWT.

Keutamaan lain yang tak kalah istimewa adalah adanya pintu khusus di surga bagi orang-orang yang berpuasa, yakni Ar-Rayyan. Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim menyebutkan bahwa hanya mereka yang berpuasa yang dapat memasukinya. Ini bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menahan diri.

Rasulullah SAW juga menyebut puasa sebagai perisai. Ia melindungi manusia dari api neraka sekaligus dari perilaku yang dapat menjerumuskan pada dosa. Bahkan, dalam hadis yang masyhur disebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sebuah janji ampunan yang seharusnya menggugah hati setiap muslim.

Tak kalah penting, doa orang yang berpuasa termasuk doa yang mustajab, terutama saat menjelang berbuka, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi. Momentum ini sering kali kita lewatkan begitu saja, padahal di situlah pintu langit terbuka bagi harapan dan permohonan.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Salman mengingatkan bahwa Ramadan adalah momentum perbaikan diri. Puasa semestinya berdampak pada akhlak, tutur kata, dan kepedulian sosial. Jangan sampai kita rajin menahan lapar, tetapi lalai menjaga lisan dan sikap.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana transformasi moral dan spiritual. Jika setelah Ramadan berlalu kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli, maka di situlah puasa menemukan maknanya. Namun jika tidak ada perubahan apa pun, barangkali kita perlu bertanya kembali: sudahkah kita benar-benar berpuasa?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top