Oleh: Muhammad Abdul Malik, M.Pd
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
{مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ}
“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan ia pernah menggembala kambing/domba.” Para sahabat bertanya, “Dan engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekkah.” (HR. Bukhari, No. 2262)
Mengapa Allah SWT memilih aktivitas menggembala sebagai “kurikulum wajib” bagi para utusan-Nya sebelum mengemban tugas risalah yang berat? Ternyata, di balik aktivitas sederhana di padang rumput tersebut, terdapat pendidikan kepemimpinan ( leadership training ) yang sangat kompleks dan mendalam.
Mengapa Harus Menggembala?
Menggembala domba atau kambing adalah simulasi nyata dalam mengelola makhluk hidup yang memiliki instink, kebutuhan, dan kerentanan. Seorang nabi dilatih untuk menghadapi kawanan yang tidak bisa berbicara, namun memiliki dinamika kelompok yang unik. Dari proses inilah, nilai-nilai kepemimpinan utama terbentuk:
Nilai-Nilai Kepemimpinan dari Padang Penggembalaan
1. Kemampuan Melindungi dan Mengayomi Seorang penggembala adalah benteng pertama bagi kawanannya. Ia harus memastikan tidak ada domba yang dimangsa serigala. Hal ini melatih pemimpin untuk memiliki jiwa melindungi rakyatnya dari ancaman dan mengayomi mereka dengan rasa aman.
2. Membimbing dan Mengarahkan Domba cenderung berjalan tanpa arah yang jelas. Penggembala harus memiliki visi: ke mana kawanan akan dibawa mencari rumput hijau. Ini adalah latihan untuk membimbing umat menuju jalan kebenaran dan mengarahkan kebijakan organisasi demi kesejahteraan bersama.
3. Kesabaran dan Ketangguhan Menghadapi hewan yang keras kepala dan cuaca yang tidak menentu melatih kesabaran yang luar biasa. Seorang pemimpin tidak boleh cepat menyerah atau emosional saat menghadapi kritik atau hambatan dalam masyarakat. Di sinilah ketangguhan mental seorang pemimpin ditempa.
4. Tanggung Jawab dan Kedisiplinan Satu ekor domba yang hilang adalah kegagalan bagi penggembala. Setiap individu dalam kawanan adalah amanah. Hal ini menanamkan rasa tanggung jawab yang mutlak dan kedisiplinan dalam menjaga waktu serta keteraturan demi keutuhan kelompok.
5. Ketegasan dan Keberanian Ada saatnya penggembala harus tegas menghalau domba yang keluar jalur, dan harus berani bertaruh nyawa menghadapi binatang buas. Pemimpin yang amanah tidak boleh ragu dalam mengambil keputusan sulit demi kepentingan umum.
6. Manajemen Risiko dan Keteguhan Penggembala harus mampu membaca tanda-tanda alam; kapan badai datang dan di mana jurang yang berbahaya. Ini adalah latihan manajemen risiko. Di tengah badai sekalipun, ia harus memiliki keteguhan untuk tetap menjaga kawanannya agar tidak tercerai-berai.
Itulah berbagai macam nilai-nilai kepemimpinan yang bisa kita pelajari dari dari para nabi melalui proses menggembala kambing/domba. Karena akar kata dari menggembala adalah: رَعَى (Ra’aa), yang ecara harfiah, kata ini berarti menjaga, memelihara, mengawasi, atau menggembala. Isim failnya atau nomina pelakunya adalah رَاعٍ yang artinya adalah “penggembala’ atau dalam konteks kepemimpinan bisa diartikan sebagai ‘pemimpin”.
Sebagaimana hadis yang berbunyi:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin (Raa’in), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (gembalaannya).” > (HR. Bukhari & Muslim)
Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa, pada hakikatnya, memimpin adalah menggembala. Para nabi, sebelum diutus oleh Allah untuk memimpin manusia, Allah gembleng dulu lewat menggembala/memimpin hewan ternak gembala.
Kita semua adalah “penggembala” dalam skala masing-masing. Mari kita tanamkan sifat kepemimpinan ini dalam keseharian kita.
Bagi diri sendiri: Miliki keteguhan dalam menjaga disiplin dan prinsip.
Bagi keluarga: Jadilah pelindung yang mengayomi dengan penuh kesabaran.
Bagi masyarakat: Kedepankan tanggung jawab dan keberanian dalam menebar manfaat.
Sebab, setiap “gembala” yang kita jaga hari ini adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak. Semoga kita mampu menjadi pemimpin yang jujur dan amanah.




