Oleh: Hj. Yuliani Khalfiah, M.Pd.I
Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa. Pada bulan ini marak keilmuan agama dibahas, lengkap dengan berbagai macam praktik peribadatan yang secara luar biasa tidak ditemui pada bulan-bulan lain. Seakan-akan berbagai macam bentuk ibadah dalam bulan suci Ramadhan ini merupakan bentuk sempurna nan ideal dari ibadah seorang muslim, disebabkan banyaknya berkah yang terkandung di dalamnya.
Seperti halnya shalat tarawih, sedekah, membaca Al-Qur’an, i’tikaf, dan yang terpenting puasa yang merupakan inti dari bulan suci Ramadhan. Banyak dari umat muslim yang berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah shalat mereka ketika bulan suci ini datang. Hal ini bisa dilihat dari antusias umat dalam melaksanakan shalat sunnah tarawih, berapa pun banyaknya rakaat yang dikerjakan, entah itu delapan rakaat ataupun dua puluh rakaat atau lebih dari itu.
Pada intinya umat muslim sangat antusias dalam mendirikan salah satu sunnah mulia Nabi Muhammad SAW terkait ibadah qiyam al-lail (mendirikan shalat malam). Kaum muslimin juga berlomba-lomba untuk bersedekah ke masjid-masjid maupun mushalla untuk memberikan makanan buka puasa.
Ramadhan juga secara luar biasa memberikan fasilitas pendidikan sosial kepada umat muslim maupun terhadap umat beragama lainnya. Puasa mengajarkan umat rasa empati kepada kaum dhuafa serta fakir miskin yang sangat penting untuk kelangsungan hidup bermasyarakat. Puasa mengajarkan bahwa kenikmatan yang selama ini kita terima patut untuk selalu disyukuri karena tidak semua orang tidak makan hanya sampai terbenamnya matahari, bahkan ada yang sampai berhari-hari.
Puasa juga mengajarkan bahwa “hungry is the best sauce” (lapar adalah sebaik-baiknya bumbu), sehingga segala kenikmatan makanan yang ada di dunia ini hanya akan nikmat jika seseorang dalam keadaan lapar, sehingga meminimalisir umat untuk memiliki gaya hidup yang tidak sehat lagi berlebih-lebihan.
Layaknya hari kelulusan yang dinanti-nanti oleh para pelajar yang telah menimba ilmu pada lembaga pendidikan, Ramadhan juga mengumumkan hari kelulusan dari berbagai gemblengan serta ujian yang telah diberikan selama satu bulan penuh pada setiap hari Raya Idul Fitri pada tanggal 1 Syawwal.
Jika pada lembaga pendidikan pada hari kelulusan terdapat pidato arahan untuk para alumni untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah mereka dapatkan, maka dalam hari Raya Idul Fitri khutbah hari raya bergema untuk para alumni lembaga pendidikan bulan Ramadhan yang bertitel a’idin dan faizin untuk tidak melupakan amalan-amalan yang sudah dibiasakan selama sebulan serta mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dalam bulan-bulan lainnya, sehingga semangat Ramadhan tidak serta-merta redup seiring berlalunya hari-hari di bulan Syawwal dan seterusnya.
Banyak pelajaran kita dapatkan selama bulan Ramadhan ini. Jangan biarkan semangat Ramadhan yang telah kita pupuk sedemikian rupa redup seiring berlalunya hari dan bulan. Jika pada bulan suci Ramadhan kita menjalankan ibadah shalat puluhan rakaat, maka setidaknya pertahankan dua rakaat dhuha dan dua rakaat tahajud yang bahkan tingkat kesulitannya tidak ada apa-apanya dibanding shalat tarawih. Kebiasaan bangun waktu sahur alangkah eloknya jika diteruskan seusai Ramadhan dengan shalat, istighfar, dan ibadah lainnya pada sepertiga malam terakhir.
Jika pada bulan suci Ramadhan kita berlomba-lomba mengeluarkan dana berjuta-juta untuk sedekah buka puasa, maka kiranya bersedekah serta memberi makan tetangga yang kelaparan tidak akan menguras habis kekayaan kita.
Jika pada bulan suci Ramadhan kita berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama dalam mendapatkan shaf terbaik dalam barisan shalat Isya dan tarawih, maka kiranya ketika azan berkumandang di setiap waktu shalat tidaklah sulit untuk kita datangi. Jika pada bulan suci Ramadhan kita berpuasa selama sebulan penuh, maka kiranya puasa Senin-Kamis tidak terlalu berat untuk dilakukan. Kerinduan terhadap puasa Ramadhan mari kita obati dengan melengkapinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal.
Khusus bagi kaum ibu, maka kebiasaan bangun menyiapkan sahur dan membangunkan keluarga untuk makan sahur, alangkah eloknya jika kebiasaan tersebut didawamkan atau diteruskan seusai Ramadhan dengan mendirikan shalat, istighfar, dan ibadah lainnya pada sepertiga malam terakhir.
Teladan dari Rasulullah adalah istiqamah melakukan kebaikan secara terus-menerus, karena Allah mencintai amalan yang dikerjakan secara rutin atau istiqamah walaupun sedikit. Rasulullah SAW bersabda: “Pelaksanaan agama yang paling dicintai Allah adalah yang senantiasa dikerjakan secara rutin dan kontinu.” (HR. Bukhari No. 41).
Dalam hadis lain, “Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun sedikit. Dan bila keluarga Muhammad SAW melakukan suatu amalan, maka mereka akan menekuninya.” (HR. Muslim No. 1302).
Semoga kita selalu istiqamah dalam meningkatkan kualitas serta kuantitas iman kita demi menggapai ridha Allah SWT. Amin.
Sekretaris Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI Kota Palangka Raya




