Menangisi Kepergian Ramadhan: Tanda Hati yang Hidup

Oleh : H. Muhammad, Pengurus MUI Kota Palangka Raya

Berakhirnya Ramadhan 1447 H kembali membuat kita sedih, bulan penuh berkah dan ampunan, kembali berpamitan. Ia datang membawa cahaya, lalu pergi meninggalkan jejak kerinduan. Bagi orang yang beriman selama menjalankan berbagai ibadah yang mendatangkan limpahan rahmat, ampunan dan pembebasan dari siksa neraka, perpisahan ini bukan sekadar akhir dari puasa dan ibadah malam, melainkan kehilangan seorang sahabat spiritual yang menghidupkan jiwa, kita sedih karena ada kekhawatiran apabila ramadhan tidak bisa kita nikmati lagi pada tahun-tahun yang akan datang, bisa jadi kita telah dipanggil oleh Allah SWT sebelum tiba ramadhan, apalagi soal umur kita tidak tahu, sementara sudah banyak diantara saudara, tetangga, dan sahabat kita yang sudah tidak bisa menikmati ramadhan tahun ini karena sudah berpulang ke rahmatullah.

Selama sebulan penuh, kita ditempa dalam kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. Ramadhan bukan sekadar ritual, tapi proses pembentukan karakter. Ia mengajarkan kita untuk menahan lapar, menahan amarah, dan menahan diri dari hal-hal yang merusak hati. Maka wajar jika kepergiannya membuat kita sedih dan rindu untuk kembali bertemu, sabda rasulullah saw “Antara shalat-shalat yang lima, satu Jumat dengan Jumat lainnya, satu Ramadhan dengan Ramadhan lainnya adalah penghapus dosa-dosa yang dilakukan di antaranya, selama dosa-dosa besar dihindari” (HR. Muslim)

Menangisi kepergian Ramadhan bukanlah kelemahan, melainkan tanda bahwa hati kita telah tersentuh. Air mata itu adalah bukti bahwa kita merindukan kedekatan kita dengan Allah SWT, bahwa kita menikmati momen-momen suci yang kini berlalu. Hati yang hidup akan merasakan kehilangan, karena ia telah merasakan kehadiran tamu yang agung bulan Ramadhan, dengan penuh harap semoga berakhirnya Ramadhan membuat menjadi insan yang kembali fitrah atau kesucian sebagaimana bayi yang baru dilahirkan, polos dan tidak memiliki dosa.

Menjadi pertanyaan adalah apa yang tersisa setelah ramadhan pergi? Yang tersisa bukan hanya kenangan, tapi bekal untuk 11 bulan ke depan. Apakah kita akan tetap menjaga shalat malam? Tadarrus Al Quran, Kedermawanan pada sesama, Apakah kita akan terus menahan lisan dari menyakiti? Ramadhan telah pergi, tapi semangatnya harus tetap hidup dalam diri kita. Karena Ramadhan bukan tujuan, ia adalah jalan menuju perubahan untuk menuju pribadi yang bertaqwa, La’allakum Tattaqun

Sebagai penutup, jika hati kita menangis, itu pertanda ia masih hidup. Maka jangan biarkan tangisan itu sia-sia. Jadikan Ramadhan sebagai titik balik, bukan sekadar momen tahunan. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang, dalam keadaan lebih baik, lebih dekat, dan lebih siap. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘aamin wa antum bikhair. “Semoga Allah menerima puasa kami dan puasa kalian, semoga setiap tahun kalian selalu dalam kebaikan”.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top