Oleh: Mustain Khaitami, SAg (Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Palangka Raya)
DALAM fase kehidupannya, ulat merupakan salah satu jenis binatang yang mengalami proses unik. Menjalani proses perubahan bentuk yang disebut sebagai metamorfosis dengan hasil akhirnya sangat mencengangkan.
Secara fisik, ada ulat yang memiliki bulu-bulu halus yang melindungi kulitnya. Jika tersentuh kulit, dampak yang ditimbulkan bisa berupa gatal maupun alergi. Sejak menetas dari telur, ulat menjadi mesin pemakan yang dahsyat. Daun apapun yang ditemui langsung disantap tanpa ampun.
Namun fase ini kemudian berubah ketika ulat sudah mulai menjalani puasa. Ulat perlahan membungkus diri menjadi kepompong, mencerna dirinya sendiri dari dalam ke luar.
Selama proses ini, ulat mulai mengubah diri. Ketika masa berpuasa telah berakhir, dari kepompong muncul wujud baru nan indah, yakni kupu-kupu.
Selain menjadi simbol keindahan, keberadaan kupu-kupu juga menjadi indikator bahwa habitat di sekitarnya adalah lingkungan yang sehat. Makanannya diambil dari sari bunga dan perilaku ini sangat membantu penyerbukan secara alami.
Begitulah sejatinya muslim. Puasa Ramadan yang saat ini sedang dijalani, hendaknya dimanfaatkan sebagai proses perbaikan diri agar menjadi insan yang bertakwa sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Mafhum mukhalafah atau kandungan pemahaman dari pesan yang disampaikan, puasa merupakan panggilan yang harus dilaksanakan atas dasar keimanan. Artinya, bukan karena tergantung situasi yang berlangsung atau sekadar ikut-ikutan, melainkan sebagai panggilan iman dan bentuk ketaatan kita sebagai hamba untuk menjalankan perintah.
Selama berpuasa, kita dilatih untuk jujur kepada diri sendiri dengan tidak makan atau minum secara sengaja, serta melakukan hal-hal lain yang dapat membatalkannya mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Kita bisa makan atau minum tanpa diketahui orang lain, tapi hakikatnya Allah Mahatahu dan tidak ada pahala yang didapat dari perilaku seperti itu.
Secara batiniyah, dalam berpuasa antara lain kita juga diajarkan untuk sabar dan dapat menekan nafsu amarah dengan tetap menjaga adab serta perilaku santun. Padahal dalam keadaan lapar dan haus, banyak orang yang mudah terpantik emosi meski karena hal sepele.
Dengan menjalani pelatihan puasa Ramadan selama sebulan penuh, tujuan menjadi insan bertakwa hendaknya dapat terwujud. Kita bisa bermetamorfosis menjadi kupu-kupu indah dengan keberadaan diri yang mampu memberikan kemaslahatan bagi orang lain. Menjadi pribadi yang lebih baik, jujur, penyabar, dan santun. Semoga.



